Maandag 24 Junie 2013

Pasca Panen Jahe

Kegiatan Pasca Panen Jahe Sortasi pada bahan segar dilakukan untuk memisahkan rimpang dari kotoran berupa tanah, sisa tanaman, dan gulma. Setelah selesai, timbang jumlah bahan hasil penyortiran dan tempatkan dalam wadah plastik untuk pencucian. Pencucian dilakukan dengan air bersih, jika perlu disemprot dengan air bertekanan tinggi. Amati air bilasannya dan jika masih terlihat kotor lakukan pembilasan sekali atau dua kali lagi. Hindari pencucian yang terlalu lama agar kualitas dan senyawa aktif yang terkandung didalam tidak larut dalam air.
Pemakaian air sungai harus dihindari karena dikhawatirkan telah tercemar kotoran dan banyak mengandung bakteri/penyakit. Setelah pencucian selesai, tiriskan dalam tray/wadah yang belubang-lubang agar sisa air cucian yang tertinggal dapat dipisahkan, setelah itu tempatkan dalam wadah plastik/ember.

Jika perlu proses perajangan, lakukan dengan pisau stainless steel dan alasi bahan yang akan dirajang dengan talenan. Perajangan rimpang dilakukan melintang dengan ketebalan kira-kira 5 mm – 7 mm. Setelah perajangan, timbang hasilnya dan taruh dalam wadah plastik/ember. Perajangan dapat dilakukan secara manual atau dengan mesin pemotong.

Pengeringan dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan sinar matahari atau alat pemanas/oven. pengeringan rimpang dilakukan selama 3 - 5 hari, atau setelah kadar airnya dibawah 8%. pengeringan dengan sinar matahari dilakukan diatas tikar atau rangka pengering, pastikan rimpang tidak saling menumpuk. Selama pengeringan harus dibolak-balik kira-kira setiap 4 jam sekali agar pengeringan merata. Lindungi rimpang tersebut dari air, udara yang lembab dan dari bahan-bahan disekitarnya yang bisa mengkontaminasi.

Pengeringan di dalam oven dilakukan pada suhu 50oC - 60oC. Rimpang yang akan dikeringkan ditaruh di atas tray oven dan pastikan bahwa rimpang tidak saling menumpuk. Setelah pengeringan, timbang jumlah rimpang yang dihasilkan

Selanjutnya lakukan sortasi kering pada bahan yang telah dikeringkan dengan cara memisahkan bahan-bahan dari benda-benda asing seperti kerikil, tanah atau kotoran-kotoran lain. Timbang jumlah rimpang hasil penyortiran ini (untuk menghitung rendemennya).

Setelah bersih, rimpang yang kering dikumpulkan dalam wadah kantong plastik atau karung yang bersih dan kedap udara (belum pernah dipakai sebelumnya). Berikan label yang jelas pada wadah tersebut, yang menjelaskan nama bahan, bagian dari tanaman bahan itu, nomor/kode produksi, nama/alamat penghasil, berat bersih dan metode penyimpanannya.

Kondisi gudang harus dijaga agar tidak lembab dan suhu tidak melebihi 30oC dan gudang harus memiliki ventilasi baik dan lancar, tidak bocor, terhindar dari kontaminasi bahan lain yang menurunkan kualitas bahan yang bersangkutan, memiliki penerangan yang cukup (hindari dari sinar matahari langsung), serta bersih dan terbebas dari hama gudang.

wijen

Tanaman wijen  (Sesamum orientale) merupakan tanaman setahun yang tumbuh tegak, dengan ketinggian 1,5-2 m.  Tanmaan yang berbentuk semak berumur 4 bulan sampai satu tahun.  Tanaman ini mampu tumbuh sepanjang tahun. Batang wijen hampir seperti kayu berbentuk bulat atau segiempat tergantung jenisnya.  Daun wijen tersusun berselang-seling, hampir berhadapan.  Tepi daunnya ada yang bergerigi ada yang tidak.  Daun berwarna hijau muda sampai tua dan tangkai daun berwarna keunguan.  Panjang daun17,5-30 cm dan lebar 1-7 cm.

Bunga wijen muncul diketiak daun.  Warna bunga bervariasi, putih, merah jambu atau ungu dengan bintik-bintik kuning atau lembayung di bagian dalam.
Buah atau polong wijen berbentuk lonjong dengan panjang 2,5-3 cm dan lebar 0,5-1 cm.  Dalam setiap polong terdapat 4-8 kotak sebagai tempat biji.  Jika biji telah matang maka polong akan terbuka mulai dari bagian atas.
Biji wijen berbentuk gepeng seperti telur berada dalam polong dengan jumlah yang sangat banyak, dan terletak berhadap-hadapan dengan posisi horisontal.  Warna biji berbeda-beda tergantung jenisnya: putih kekuningan, putih berbintik hitam, keabu-abuan, coklat, hitam.
Syarat tumbuh wijen:
  1. Jenis tanah yang baik untuk wijen adalah tanah podsolik, aluvial dan regosol.  Dg pH tanah optimum 5,5-6.
  2. Ketinggian tempat: Tanaman wijen dapat tumbuh di dataran rendah, medium maupun tinggi smapai 1.700 m dpl, namun yang optimal di dataran rendah kurang dari 700 dpl.
  3. Topografi tanah : baik di lahan datar
  4. Suhu optimum  27-33
  5. Curah hujan:  369mm- 800 mm/bln.  Wijen peka terhada CH tinggi dan tidak tahan terhadap genangan.
  6. Penyinaran: senang cahaya matahari penuh.  Penanamannya sebaiknya pada musim kemarau.
  7. Keadaan angin: wijen berbatang kecil tak tahan angin kencang karena dapat merusak tanaman.
Panen dan Pasca Panen wijen:
  1. Potensi wijen dapat mencapai 1,25 ton/ha.
  2. Umur panen sangat menentukan tingkat kemasakan biji wijen dan kadar minyak yang dikandungnya.  Umur panen wijen bervariasi antara 100-160 hari.  Jika di tanam di dataran rendah umur panen wijen lebih pendek sekitar 100 hari.  Jika ditanam didatran tinggi panen jadi lebih lama sekitar 160 hari.
  3. Cara panen, sam dengan pemanenan kedelai.  Pemetikan polong dengan mengambil seluruh tanaman dg memotong batang tanaman mulai dari pangkal batang dengan menggunakan sabit yang tajam. Selanjutnya tanaman diikat dan digundukkan selama dua hari agar daun-daunnya berguguran.
  4. Waktu panen: pagi , sore pada cuaca cerah.
Polong yang belum masak petik dicirikan oleh masih adanya warna hijau.  Jika sudah dipanen maka setelah penjemuran/pengeringan biji akan keriput, gabuk(kosong) dan berkadar minyak rendah.
Jika panen terlalu tua/terlambat maka polong sudah banyak yang pecah sehingga biji wijen sudah banyak yang lepas dan berhamburan di tanah.  Sehingga akan terjadi kehilangan hasil yang cukup banyak.   (Pustaka: Wijen, Teknik Budidaya dan Analisis Usaha Tani. Dede Juanda JS dan Bambang Cahyono.  Penerbit Kanisius. Yogyakarta. 2009)

Saterdag 01 Junie 2013

TANAMAN PERKEBUNAN

TANAMAN JARAK

Tanaman Jarak di Indonesia dapat tumbuh dengan baik karena kesesuaian iklim dan tanah, sehingga tumbuh bisa merata sebagai gulma. Namun karena hasil dari tanaman ini bisa diolah menjadi produk yang bernilai ekonomis, maka tanaman ini kini mulai di budidayakan. PT. Natural Nusantara mencoba memberikan bantuan teknis budidaya tanaman ini sehingga mampu berproduksi sesuai dengan harapan yang diinginkan tanpa meninggalkan standar kuantitas, kualitas, dan kelestarian lingkungan (Aspek K-3).

TANAMAN KAKAO
           Tanaman Kakao merupakan tanaman perkebunaan berprospek menjanjikan. Tetapi jika faktor tanah yang semakin keras dan miskin unsur hara terutama unsur hara mikro dan hormon alami, faktor iklim dan cuaca, faktor hama dan penyakit tanaman, serta faktor pemeliharaan lainnya tidak diperhatikan maka tingkat produksi dan kualitas akan rendah.

PT. Natural Nusantara berusaha membantu petani kakao agar mampu meningkatkan produktivitasnya agar dapat bersaing di era globalisasi dengan program peningkatan produksi secara kuantitas dan kualitas, berdasarkan konsep kelestarian lingkungan (Aspek K-3).

TEKNIK OKULASI TANAMAN KARET YANG BAIK

Pengertian Okulasi
Okulasi merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman yang dilakukan dengan menempelkan mata entres dari satu tanaman ke tanaman sejenis dengan tujuan mendapatkan sifat yang unggul.

Enam tahapan okulasi
1. Kesiapan batang bawah 
2. Pembuatan jendela okulasi 
3. Penyiapan perisai mata okulasi 
4. Penempelan perisai mata okulasi 
5. Pembalutan 
6. Pemeriksaan hasil okulasi



 PEMELIHARAAN TANAMAN JERUK

PENYULAMAN
    Dilakukan pada tanaman yang tidak tumbuh.
 
PENYIANGAN
    Gulma dibersihkan sesuai dengan frekuensi pertumbuhannya, pada saat pemupukan juga dilakukan penyiangan.
 
PEMBUBUNAN
    Jika ditanam di tanah berlereng, perlu diperhatikan apakah ada tanah di sekitar perakaran yang tererosi. Penambahan tanah perlu dilakukan jika pangkal akar sudah mulai terlihat.
 
PEMANGKASAN
    Pemangkasan bertujuan untuk membentuk tajuk pohon dan menghilangkan cabang yang sakit, kering dan tidak produktif/tidak diinginkan. Dari tunas-tunas awal yang tumbuh biarkan 3-4 tunas pada jarak seragam yang kelak akan membentuk tajuk pohon. Pada pertumbuhan selanjutnya, setiap cabang memiliki 3-4 ranting atau kelipatannya.
Bekas luka pangkasan ditutup dengan fungisida atau lilin untuk mencegah penyakit. Sebaiknya celupkan dulu gunting pangkas ke dalam Klorox/alkohol. Ranting yang sakit dibakar atau dikubur dalam tanah.
 
PEMUPUKAN
    Pemberian jenis pupuk dan dosis (gram/tanaman) setelah penanaman adalah
sebagai berikut:
 
PENGAIRAN DAN PENYIRAMAN
    Penyiraman jangan menggenangi batang akar. Tanaman diairi sedikitnya satu kali dalam seminggu pada musim kemarau. Jika air kurang tersedia, tanah di sekitar tanaman digemburkan dan ditutup mulsa.
 
PENJARANGAN BUAH
    Pada tahun di mana pohon jeruk berbuah lebat, perlu dilakukan penjarangan supaya pohon mampu mendukung pertumbuhan dan bobot buah serta kualitas buah terjaga. Buah yang dibuang meliputi buah yang sakit, yang tidak terkena sinar matahari (di dalam kerimbunan daun) dan kelebihan buah di dalam satu tangkai. Hilangkan buah di ujung kelompok buah dalam satu tangkai utama terdapat dan sisakan hanya 2-3 buah.

Budidaya Rambutan dan Cara Menanamnya


Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman rambutan.

A.   Faktor luar
       Faktor luar adalah factor-faktor yang terdapat di luar tanaman rambutan, yaitu   sebagai berikut:

1.   Tanah
      Jenis tanah yang baik sebagai media tanam untuk pertumbuhan rambutan adalah tanah yang gembur, subur, dan sedikit berpasir. Walaupun sebenarnya rambutan dapat hidup dalam segala jenis tanah, namun pada jenis tanah seperti tersebut di atas, rambutan dapat memberikan hasil yang optimal.
Tingkat derajat keasaman (pH) tanah yang optimal untuk budidaya tanaman rambutan adalah antara 6,67 dan jika pH tanahnya kurang dari 5,5 seperti daerah rawa-rawa maka perlu diadakan pengapuran terlebih dahulu.

2.   Iklim
      Iklim adalah keadaan suhu rata-rata suatu tempat pada jangka waktu tertentu.
Keadaan iklim sangat dipengaruhi oleh:
a.  Suhuudara,
b.    Curah hujan,
c.    Pancaran sinar matahari, dan
d.    Arah angin
Hal yang paling mempengaruhi keadaan iklim adalah curah hujan. Curah hujan yang diperlukan rambutan adalah 1.500-2.500 mm setiap tahunnya.
Pada saat berbunga, rambutan memerlukan musim kering selama 3 bulan agar dapat menjadi buah yang baik. Jika musim kering berlangsung lebih dari 3 bulan, maka bunga akan menjadi gugur atau buah tidak sempurna (menjadi kempes).
 
3.    Letak ketinggian
       Ketinggian antara 30-500 meter di atas permukaan laut adalah kondisi tempat yang dapat dipakai bertanam untuk mendatangkan hasil lebih baik.

B.   Faktor Dalam
       Faktor-faktor dalam adalah factor yang berasal dari tubuh tanaman rambutan itu sendiri, yang termasuk factor dalam adalah sebagai berikut:

1.    Jenis rambutan yang ditanam
      Terdapat beragam jenis rambutan, masing-masing memiliki sifat yang khas. Dari bermacam-macam sifat tersebut, kita dapat menyeleksi sifst-sifst yang menguntungkan. Sifat-sifat tersebut diturunkan ini juga perlu kita perhatikan, jika ingin memperoleh  hasil lebih baik.

2.    Bibit yang dipilih
       Seperti kita ketahui, sifat turunan adalah sifat yang diturunkan induk pada anak-anaknya. Jika kita telah memilih induk dengan sifat unggul atau berkualitas, kita dapat juga mengusahakan agar sifat tersebut diturunkan pada anak-anaknya yaitu dengan cara perkembangbiakkan tak kawin, misalnya mencangkok. Dengan cangkok, kita memiliki beberapa keuntungan yaitu:
a.    Diperoleh sifat yang hampir sama dengan induknya;
b.    Cepat berbuah;
c.    Cepat menghasilkan keturunan.
Tetapi apabila kita mendapatkan keturunan dengan hasil perkawinan, belum tentu memperoleh sifat yang sama dengan induk, sebab perkawinan adalah gabungan antara induk jantan dan induk betina.